Linguistic
Oke karna aku berada di jurusan bahasa inggris, jadi aku mau kasih Tau apa yang aku ketahui tentang linguistic.
Tapi aku belum tau apa itu linguistic, jadi setelah aku searching di Google, Well, introduction to linguistics atau bisa juga disebut sebagai pengantar linguistik adalah suatu materi yang mengenalkan seluk beluk bahasa, mulai dari jenis, pola, dan bentuknya.
Selanjutnya, aku masih belajar
setelah aku telusuri, aku menemukan
PENGANTAR LINGUISTIK (PROF.DR.J.W.M.VERHAAR)
“PENGANTAR
LINGUISTIK”
Jilid
pertama
Cetakan
ke : 20
Penerbit
: gajah mada university press
1995
PROF.DR.J.W.M.VERHAAR
BAB
I
APAKAH
LINGUISTIK ITU?
1. Mengenai
namanya
Linguisti
berarti ‘ilmu bahasa’. Kata ‘linguistik’ berasal dari kata latin lingua
‘bahasa’.
Ferdinant
de Saussure, seorang sarjan Swiss, dianggap sebagai pelopor lingguistik modern.
Bukunya Cours de linguistique generale (1916) sangat
terkenal dan dianggap sebagai dasar lingguistik modern. Oleh sebab itu,
beberapa istilah Saussure diterima umum sebagai istilah resmi, misalnya langage,
langue, dan parole. Langage berarti bahasa pada umumnya, seperti
dalam ucapan “manusia mempunyai bahasa, binatang tidak mempunyai bahasa”.
Langue selalu berarti bahasa tertentu. Kata parole berarti logat, ucapan, perkataan.
2. Mengapa
“umum”?
Ilmu
linguisti sering pula disebut “linguistik umum”. Artinya linguistrik tidak
hanya menyelidiki suatu langue tertentu tanpa memperhatikan ciri-ciri bahasa
lain. Para sarjana linguistik tidak hanya mempelajari ‘langue’ saja, tapi juga
tenpatnya didalam “langage”.Pendeknya, linguistik harus umum.
3. Linguistik
sebagai ilmu pengetahuan spesifik
Semua
menyelidiki bahasa bukannya “sebagai bahasa”, melainkan bahasa sebagai
manifestasi dari sesuatu yang lain. Yang spesifik dalam ilmu linguistik ialah
bahwa penyelidikan menyangkut bahasa ‘sebagai bahasa’. Prinsip tersebut memang
sangat diakui namun secara praktis sering terdapat perbedaan pendapat mengenai
apa yang menjadi kekhususan ilmu linguistik, hal itu disebabkan oleh karena
adanya banyak pertindihan diantara masing-masing ilmu pengetahuan empiris dan
filsafat. Yang penting bagi kita sekarang adalah mengingat bahwa prinsip tadi
dianggap berlaku umum.
4. Mengenai
obyek linguistik
Yang
jelas sampai sekarang adalah bahwa obyek linguistik itu adalah bahasa. Akan
tetapi pengertian kata ‘bahasa’ itu belum tentu jelas. Oleh kerena itu, perlu
kita batasi sebagai berikut
a. “Bahasa“
dalampengertian kiasan misalnya dalam ucapan “bahasa dansa” “bahasa alam” dan
lain sebagainya.
b.
“Bahasa”
dalam pengertian harafiah. Kita harus membedakan langage, langue, dan parole.
Dalam
pengertian (b) sajalah bahasa itu menjadi objek linguistik. Disamping itu kita
juga membedakan bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan merupakan objek
primer ilmu linguistik, dan bahasa tulisan merupakan bahasa sekunder ilmu
linguistik.
Akhirnya
kita perlu bertanya bagaimana ‘langage’, ‘langue’, dan ‘parole’ dibedakan
sebagai objek linguistik. Parole merupakan objek konkret untuk ahli linguistik,
langue adalah objek yang sudah sedikit lebih abstrak, dan yang paing abstrak
adalah langage.
BEBERAPA
BIDANG ILMU DALAM LINGUISTIK
1. Pembagian
linguistik atas berbagai bidang
Semua
cabang ilmu pengetahuan terbagi atas bidang-bidan “bawahan”. Dewasa ini tidak
ada persetujuan diantara ahli linguistik bagaiman pembagian bidang-bidangnya.
Diantara bidang yang dibedakan kita jumpai linguistik antropologis, lingiuistik
sosiologois atau sosiolinguistik, linguistik komputasionil, dll.
Disini
hanya akan diuraikan bidang-bidang dalam linguistik saja, yaitu bidang-bidang
fonetik, fonologi, morfologi dan sintaksis. Sebelum itu akan dijelaskan
mengenai perbedaan antara linguistik sinkronis dan dan diakronis, serta
perbedaan antara tatabahasa (gramatikal) dan bendaharaan kata (leksikon).
2. Linguistik
sinkronis dan linguistik diakronis
Kedua
istilah itu berasal dari Saussure. Linguistik diakronis adalah penyelidikan
tentang perkembangan suatu bahasa. Perkembangan suatu bahasa dapat terjadi
sedemikian rupa sehingga setelah beberapa abad timbullah beberapa bahasa yang
benar-benar berlainan, karena variasi-variasi dari bahasa itu saling menjauhkan
diri.
Lain
lagi dengan linguistik sinkronis, bahasa dianalisa tanpa memperhatikan
perkembangan yyang terjadi pada masa lampau. Yang tampak pada analisis sinkronis
adalah apa yang lazim disebut “struktur”.
3.
Analisa
leksikal dan analisa gramatikal.
Menurut sistematiknya, dalam setiap bahasa dapat
dibedakan antara tatabahasa atau ggramatika bahasa itu dan pembendaharaan kata
atau leksikon dalam bahasa yang sama. Oleh sebab itu, analisa tatabahasa atau
analis a gramatikal dibedakan dari analisa leksikon, atau leksikologi, atau
analisa leksikal.
Maka dari itu dalam semantik (analisa makna) lazim
dibedakan pula antara semantik gramatikal dan semantik leksikal. Pembedaan
tersebut dewasa ini banyak dipersoalkan.
4. Fonetik,
fonologi, morfologi, sintaksis
Selain
dari leksikon, sistematik setiap bahasa meliputi empat taraf “hierarkis” lagi,
yaitu fonetik, fonlogi, morfologi, dan sintaksis. Yang tertinggi dalam hierarki
adalah morfologi dan skintaksis, disebut tatabahasa atau gramatika.
Fonetik
atau ilmu bunyi yang menyelidiki bunyi bagaumana terdapat dalam parole atau
sebagaimana terdapat didalamnya. Fonetik menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut
perbedaan diantaranya tanpa memperhatikan segi “fungsionil” dari perbedaan
tersebut, edangkan fonologi menyelidiki bunyi bahasa hanya menurut segi
fungsionilnya saja. Sebagai contoh dalam bahasa indonesia perbedaan antara /r/
dan /l/ adalah perbedaan antar-fonem. Sedangkan dalam bahasa Jepang perbedaan
antara [r] dan [l] adalah perbedaan fonetis saja.
Morfologi
atau tatabentuk menganalisa bagian-bagian kata. Misalnya dalam bahasa indonesi
kata “terduduk” teriri atas morfem “ter” dan morfem ”duduk”. Morfem itu disebut
satuan gramatikal yang terkecil dalam sistematik bahasa.
5. Semantik
Sematik
adalah cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti. Perbedaan
antara leksikon dan gramatikal menyebabkan bahwa dalam semantik itu kita
bedakan pula antara semantik leksikal dan semantik gramatikal. Mengenai
semantik leksikal tidak perlu kita uraikan banyak, sebuah kamus merupakan
contoh yang tepat dari semantik leksikal, makna tiap-tiap kata diuraikan
disitu. Semantik gramatikal lebih sulit dianalisa. Memeang menurut perbedaan antara
kedua taraf gramatika, yaitu morfoologi da sintaksis, maka masuk akal kita
bedakan anatara semantik sintaksis dan morfologis. Padahal tidak semua bagian
sintaksis dapat dikatakan bermakna, sedangkan dalam hal morfem-morfem tertentu
maknanya sering sulit dianalisa.
Yang
penting sekarang ialah kita sadari bahhwa semantik itu tidak merupkan taraf.
Ada semanttik pada taraf leksikon, dan gramatika. Fonetik itu sama sekali tidak
ada hubungannya dengan semantik, sedangkan pada taraf fonologi harus dikatakan
bahwa fonem-fonem memang tidak bermakna.
6. Linguistik
teoritis dan linguistik terapan
Linguistik
sebagai ilmu pengetahuan membutuhkan suatu teori yang konsekwen, sesuai teori
linguistis.
Linguistik dapat dimanfaatkanpula untuk masalah praktis
diluar linguistis itu sendiri. Misalnya bagaimana mengatasi kesulitan dalam
pengajaran suatu bahasa asing? Kesulitan kesulitan tersebut untuk sebagian
tidak menyangkut bahasa tetapi mialnya umur siswa, motivasinya, kemampuan untuk
menghafalkan bahan-bahan, dls. Masalah semacam itu jelas termasuk ppsikologi
belajar, psikologi perkembangan dan pendagogik. dipihak lain, linguistikpun
dapat dipakai untuk memudahkan soal-soal
tadi. Lalu linguistik itu menjadi linguistik terapan, ilmu linguistik dan teori
linguistik itu dikerjakan bukan demi teori itu sendiri, melainkan hanya sejauh
menolong untuk mengatasi kesulitan tadi. Istilah Inggris untuk
linguistik terapan adalah applie lingustics, dan dibedakan dari theoretical
linguistics itu.